Selama kurang lebih 8 musim bermain FPL, pekan ke 19 musim ini mungkin jadi salah satu momen yang sulit saya lupakan.
Apakah perihal capain kapten haul? Hmm, rasanya ini sudah mainstream di komunitas FPL.
Apakah tentang prestasi tiga digit poin keseluruhan dalam sepekan? Sepertinya terdengar sulit saya raih.
Lantas momen apa yang terjadi di pekan ke 19 ini?
Ya, deadline pekan ke 19 dijadwalkan pukul 20.00 WIB pada hari senin, 27 Desember 2024. Masih masuk di rentetan jadwal padat akhir tahun.
Setengah jam sebelum deadline, saya sudah siap mengatur tim.
Indera pengelihatan saya menatap layar gawai. Membuka dua aplikasi, Google Chrome untuk setting tim dan X untuk mendapatkan informasi terbaru.
Lantas, apa yang membuat saya melakukan transfer mendekati deadline?
Absennya Bruno Fernandes adalah faktor utamanya. Keputusan transfer mendekati deadline ini saya ambil karena saya masih berada di dua pilihan.
Pertama, ingin bermain agresif dengan pilihan mengganti Bruno ke Rogers dan upgrade Stewart ke Watkins. Atau hanya switch Bruno ke KDB -yang mana untuk pilihan ini saya wajib menunggu bocoran sebelas pertama Man. City.
Pilihan kedua, bermain aman dengan menyimpan free transfer dan mencadangkan Bruno.
Berhubung hingga mendekati deadline transfer tak kunjung ada informasi perihal sebelas utama Man. City, saya mengambil keputusan agresif untuk mengambil duo Aston Villa yang mana akan melakoni jadwal kandang melawan Brighton, disusul jadwal kandang juga melawan Ipswich Town di pekan ke 20.
Saya menekan tombol Confirm transfer tepat pukul 20.00 WIB. Alhasil, setelah itu homepage website FPL sudah otomatis berubah landing page ke informasi deadline. Pasca klik tombol tersebut, saya tidak bisa melakukan apa-apa lagi.
Tidak tau juga, apakah transfer saya berhasil kesimpan atau tidak. Jujur, saya cukup was-was dengan hal ini.
15 menit berlalu, susunan sebelas pertama Man. City keluar. Ada nama KDB di situ. Ini hal utama yang bikin saya sedikit agak menyesal karena batal beli dia.
Satu jam berlalu, saya coba cek lagi untuk melihat susuan tim. Ternyata transfer Rogers dan Watkins berhasil. Namun, kedua pemain itu berada di cadangan karena Stewart dan Bruno di pengaturan awal saya sebelumnya berurutan di cadangan ke 3 dan 4. Lah, sia-sia banget membuang 2 transfer ini.
Padahal, duo Aston Villa itu saya target untuk dua laga di Villa Park yang mana Aston Villa menjadi tim yang lumayan ganas (tim peringkat ke 5 perihal statistik lini serang saat bermain kandang).
Setelah kejadian itu saya masih berpikir positif. Setidaknya saya masih kebagian satu fixture di Villa Park saat menjamu Ipswich Town.
Namanya juga FPL, tidak seru kalau tanpa penyesalan. Berkat keputusan nyeleneh itu, saya langsung dihukum dengan:
1. Watkins (12 poin) dan Rogers (11 poin) berada di cadangan 3 dan 4.
2. Rogers mendapatkan kartu kuning ke 5. Yang mana akan menerima hukuman larangan bermain satu pertandingan dan absen di pekan ke 20 saat melawan Ipswich Town (fixture yang jadi salah satu alasan beli Rogers).
3. Tidak aware dengan posisi kiper. Sanchez tidak bermain sedangkan cadangannya, Fabianski cidera. Saya hanya bermain 10 pemain.
Tidak hanya perihal keteledoran membuang 2 jatah transfer yang berujung sia-sia (atau bahkan rugi, karena Rogers absen). Susuan tim saya jadi berantakan karena hasil di pekan ke 19.
Pekerjaan rumah saya menumpuk dengan risiko menit bermain kedua kiper, cideranya Joe Gomez, dan hukuman larangan bermain ke Cunha. Seharusnya, jika saya masih menyimpan free transfer, masalah ini bisa saya cari solusinya.
Penyesalan di pekan ke 19 tidak hanya di situ. Seperti pepatah sudah jatuh tertimpa tangga.
Pilihan kapten Palmer (2 poin) juga tidak berhasil untuk menyaingi jumlah poin kapten mayoritas, Mo Salah (16 poin). Terlalu berlebihan jika saya sebut menyaingi, mendekati pun tidak.
Selisih 28 poin (jika dihitung poin kapten) dari pilihan kapten ini menurunkan overall rank saya 100% lebih. Bahkan angka jumlah game week point saya menyentuh 9 juta lebih, dari total 10 jutaan manajer.
Satu-satunya hal untuk mengurangi penyesalan ini, saya harus reset dan kemudian kembali ke rencana awal. Atau bahkan harus tambah detail memperhitungkan lagi ketika mencoba bermain agresif.
Dari pengalaman tidak enak ini, semoga menjadi pembelajaran bagi saya untuk membangun karakter dalam setiap pengambilan keputusan di hari berikutnya.
Seperti di bio profil akun X saya, semoga Tuhan masih menyayangi saya di pekan-pekan selanjutnya.
Comments
Post a Comment